Wagub Lampung : Desa Wisata Memiliki Daya Ungkit Tinggi Mewujudkan Kesejahteran Dibandingkan Sektor Pertanian - Gelora Hukum

Breaking

Senin, 28 Oktober 2019

Wagub Lampung : Desa Wisata Memiliki Daya Ungkit Tinggi Mewujudkan Kesejahteran Dibandingkan Sektor Pertanian

JAKARTA, GELORA HUKUM - (29/10/2019), Desa yang berbasis Desa Wisata bisa mewujudkan kesejahteran masyarakat desa. Sebab,  kantong-kantong kemiskinan berada di desa. Desa punya modal dasar yaitu keindahan, keunikan dan ketetarikan alami dan berpotensi menjadi desa wisata. 

Jika didukung oleh fasilitas yang baik,  apik dan nyaman akan  menarik wisatawan lokal dan mancanegara. 

Estetika desa selalu ada keunikan,  ketertarikan dan berpotensi besar jika ditrasformasi menjadi desa wisata. Tinggal tekad dan niat mengelolanya saja. 

Sebab,  indeks kebahagiaan di daerah masih rendah dikarenakan kesejahteraan di desa masih rendah bersasarkan data dari BPS. 

Selama ini desa hanya fokus menggali potensi pertanian saja. Daya ungkit pertanian desa sangat rendah dengan daya ungkit di sektor pariwisata dan industri. 

Di desa harus dibangun BUMDes dikelola dengan baik untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa.

Penanggulangan kemiskinan yang ada di desa harus berbasis agrowisata atau desa wisata. Ada dua cara yang harus dilakukan yaitu pertama, 
menaikan kemampuan dan keahlian warga desa sehingga pendapatan masyarakat desa akan naik dengan sendirinya, dan dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan dengan dibantu oleh tenaga pendamping desa yang handal dan profesional. Kedua, mengurangi konsusmi konsmtif warga di desa, misalnya belanjaan yang tidak produktif. Artinya ada hal baru yang dilakukan bukan sekedar rutinitas. 

Inlah solusi dan sekaligus cara menaikan kesejahteraan desa, dan desa wisata adalah solusinya. 

Menemukan keunikan desa tersebut dan menambah sentuhan. Misalanya pertanian dijadikan agrowisata. 
Maka,  produksi warga di desa nilainya menjadi naik. 

Bila wisatawan turun ke desa maka ada transaksi  ekonomi dan nilai di desa tersebut. 

Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam membangun dan mengembangkan desa wisata.  Pertama,  akses. Akses yang baik menuju lokasi desa wisata sangat diperlukan. Sangat dibtuhkan perhatian  dan dukungan dari pemerintah pusat hingga pemerintah daderah menyediakan aksesibiltas yang memadai,  ramah dan aman.  Misalnya,  Pantai Gigihiu yang ada di Provinsi Lampung sangat cantik, indah dengan panorama yang unik di sore hari, dan disertai penampakan  lumbu-lumba yang mengagumkan. 

Namun, asksesibiltas sangat sulit sekali. Padahal banyak wisatawan  mancanegara dari Austarlia yang berkunjung kesana.  Artinya akses sangat penting dan menjadi penentu kemajuan suatu desa wisata dan pembangunannya harus dilakukan secara sistemtis,  terencana dan berkelanjutan.

Dana desa harusnya diperuntukkan untuk pembangunan lingkungan akses ke desa wisata,  begitu juga pemerintah kabupaten hingga  pemerintah provinsi.  Jika saling berkoordinasi dan berkolabirasi membangun desa wisata maka hasilnya akan sangat signifikan untuk peningkatan ekonomi kesejehteraan warga desa. 

Kedua,  Amenitis, artinya objek wisata desa butuh kenyamanan, keamanan dan keramaha. Harus tersedia infrastruktur pendukung misalnya aneka macam makan tradisional,  home stay ean tidak harus hotel dan toilet yang bersih dan higienis. 

Artinya penduduk desa harus diberdayakan untuk mengelola rumahnya sebagai homestay yang diperuntukan bagi wisatawan. Sanitasi,  kebersihan,  dan hospitality harus diperhatikan dengan baik. Dengan standar itu,  masyarakat desa harus diajarkan atau diedukasi mengenai desa wisata. 

Ketiga,  Atraksi artinya bukan hanya sesuatu given tapi diciptakan. Given misalnya keindahan alami desa. Sedangakan diciptakan yakni atraksi budaya tradisional,  permainan tradisional,  cerita tradisional dan makanan tradisional harus dikemas dengan kualitas terbaik. 

Pemuda desa harus diberdayakan. Mengapa angka penggunaan narkoba di desa cenderung naik karena minimnya kegiatan positif  di desa. Sehingga pemuda desa mudah terkontaminasi dengan obat-obat tersebut. 

Bila pemuda desa diberdayakan  maka hasilnya sangat baik dan positif.  Misalnya, pemuda desa mengajak turis main volly besama di sore,  melihat gajah liar, melihat kebun petani dan sambil memetik buahnnya. Artinya, tidak harus merubah estetika asli desa tersebut.

Sebab,  potensi uang yang beredar di desa wisata sangat besar. Misalnya, Desa Braja Harjosari di Lampung bisa menghasilkan transaksi 1,8 miliar perbulan di dapatkan dari hasil pengelolaan homestay dan makanan tradisional. 

Dengan demikian, agrowisata  berbasis desa wisata bisa mewujudkan kesejahteran,kemandirian masyarakat desa tanpa merubah estetika desa.  Daya ungkit ekonomi desa wisata empat kali lipat besarnya dari sektor pertanian. (EZL)3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOSOK