Identitas Budaya Nias : Tölu (3) Lala Wasumangeta ba Danö Niha - Gelora Hukum

Breaking

Rabu, 06 November 2019

Identitas Budaya Nias : Tölu (3) Lala Wasumangeta ba Danö Niha


Oleh P Aaron T.  Waruwu
NIAS BARAT, GELORA HUKUM - Pendahuluan, “Lakhömi sebua  wahasara dödö”  adalah salah satu ungkapan yang sangat  jelas untuk menggambarkan nilai-nilai budaya Nias pada umumnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang Nias terikat dan hidup di dalam  klan atau kelompok tertentu berdasarkan ikatan adat / Öri, Marga (Mado), Kampung (Banua), dan Pertalian persaudaraan karena hubungan darah (Fa’atalifusöta – Ngafu). Semua itu disimbolkan dengan Omo Sebua (Rumat Adat).

Di dalam Omo Sebua atau rumah adat tinggallah satu keluarga  (bukan hanya keluarga batih) yang terdiri dari : Kakek/nenek,  ayah, ibu,  anak pertama laki-laki bersama istri dan anak, Anak lelaki kedua bersama istri dan anak, ... kadang anak perempuan dengan suami dan anaknya, tante, ponakan bahkan orang saudara jauh pun ikut di dalamnya. Dalam kenyataanya yang disebut Satu Keluarga bisa terdiri dari beberapa keluarga batih, yang akhirnya sering disebut keluarga besar.

Pertalian persaudaraan  yang terbentuk dalam Omo Sebua ini dipelihara sedemikian rupa sehingga kendati sudah pindah tempat  tinggal (misalnya salah satu anak laki-laki membangun rumah barunya) masih tetap bagian dari rumah besar;  Hafabö’ö naha wemörö (hanya beda 
tempat tidur). Sudahlah pasti, kaluarga kecil yang baru semakin bertambah, semakin beranak-cucu, namun tinggal dalam satu ikatan persaudaraan kokoh dan terpelihara.

Merangkul orang lain (ifaogö khönia niha/dalifusönia) bergabung dalam klan untuk memperbesar pengaruh dan kekuatan adalah hal yang pasti demi kelangsungan dan kemuliaan (lakhömi) keluarga besar tadi. 

Lala Wasungeta Dalam konteks membangun dan memelihara kekompakan (fahasara dödö) dalam satu keluarga besar dibutuhkan keharmonisan dan penghargaan satu sama lain. 

Ungkapan-ungkapan penghargaan ini menunjukkan betapa penting peran dan posisi seserorang. Harga diri seseorang tercermin dalam memperlakukan peran dan posisinya tadi. Hal ini sangat sensitif 
di dalam masyarakat Nias pada umumnya. Seseorang sangatlah malu (aila sibai) dan marah (mofönu) bila tak mendapatkan penghargaan sesuai peran dan posisinya.
  
Sumange adalah penghargaan yang diberikan kepada seseorang. Lala Wasumangeta adalah cara menghargai dan memuliakan seseorang  sebagai ungkapan kasih yang tulus (böwö si sökhi). Sejatinya, orang Nias itu sangat murah hati (oböwö). Kemurahan hati sudah menjadi kewajiban yang diwariskan oleh nenek moyang kita dan dikuatkan dalam Fondakö (keputusan 
adat yang disertai dengan ancaman hukuman).

Ada pun cara mengukapan penghargaan ini disampaikan dengan memakai sarana (Nifogama-gama), tata-aturan (nifohada-hada), berseni (nifoadu-adu). Ba safuria bauwu wondrakὅ, siakhi ba nuwu ndrela. 
Ya’ia wo-bὅwὅ masimasi, bὅwὅ so’idanὅ 
ndrekha, Bὅwὅ si lὅ ogo’ὅ ba lὅkhὅ, lὅ falawu na motawa.

Sokafu mὅroi ba nidanὅ,Sanὅri hulὅ 
na’ua. Nifauwu ndraono masimasi, bὅwὅ mauwu zatua. Ni’eri zi lὅ tὅdὅtὅdὅ,nitolo zi lὅ ba danga. Sau’a     ni’o’ohe     bὅ’ὅtὅ, sakhὅmὅ nifo’ambala.

Oi nihonogὅi bauwu Wondrakὅ, oi nirakὅ bauwu ndrela. Me oroisa Zihai Uwu Nangi,me oroisa Zihai Uwu Mbara,  
Ni’oroi’ὅ mitou ba nga’ὅtὅ, nifa’ema mitou ba woraha. Tobali mὅlimὅli sinὅngὅni tobali hoihoi olembata, Fondrakὅ si lὅ ogo’ὅ ba lὅkhὅ, lὅ mangulu ba deu, molὅ taŵ.

Ba so zui na sa mbὅwὅ masimasi, sanandrὅsa gὅi ba wobanua. Na so ba gaolo ŵalo zi heremὅ, ma lakha mbanua si ha samὅsa. 

Me lὅ sendroro lὅ ono alawe, ba lὅ gὅi khὅnia ono simatua. Ba mὅi wὅ rorogὅfὅ mbarahao, mὅi rorogὅfὅ wobanua. Wame khὅnia nahia zinanὅ gowi, wanuturu benua mὅi taniŵa. Wolau khὅnia zandroro lὅgulὅgu, wame khὅnia zandroro halama. 
Nahiania wombase fa’azore, nahia ba wombaloi fa’ahuwa.  Ba mufobὅrὅ ia bὅrὅ wanali, mube khὅnia mbὅrὅ wosinandra (Syair Hoho Nono Niha).

Ada tiga (3) Lala Wasumangeta  
1. Sumange ba Li (Tutur kata) 
 Hadia zami ba manu ha iwo-iwo; 
Sami moroi ba gö, si sambua fehede taromali. 

Dalam masyarakat Nias, Tutur Kata yang halus dan berseni menjadi ciri khas orang 
yang memiliki kemurahan hati. Tutur kata yang baik ini harus menjadi yang pertama 
dalam sapaan kepada orang lain.

Hal ini bisa kita lihat dalam upacara adat, dimana selalu diawali dengan Fangowai 
(Menyapa dan menyambut para tamu terhormat dan disebut nama atau posisinya di hadapan khalayak) yang diikuti dengan Pemberian Sirih.

Akan tetapi yang jauh lebih dalam makna dari Sumange ba Li  adalah a) Lafahede 
nda’o/Fehede Sisambua  : dalam segala peristiwa saya “disapa” untuk membertitahu hal tersebut sebagai tanda bahwa saya bagian dari peristiwa itu; b) La fondondongo ligu : saya diberi kesempatan menyampaikan pendapat saya. Bila saya tak didengar berarti saya tidak dilibatkan sebagai bagian dari peristiwa itu. 

2. Sumange Ba Wetaro (Posisi atau kedudukan) 
Pertumbuhan seseorang dimulai dari anak sampai dewasa harus dibarengi  dengan cara memperlakukan orang tersebut. Maka dalam Masyaratat Nias mengenal tingkat posisi dalam strata adat (bosi), mulai dari satu sampai dengan dua belas (bosi si-1 irugi bosi-12).

Dalam Upacara Adat sangatlah mudah mengenalnya. Tokoh dan orang penting  yang layak dihargai diberi tempat duduk dan meja masing-masing sesuai dengan peran dan posisinya, misalnya Uwu, Nga’ötö  Nuwu, Salawa Hada, Famareta, Kaoniwa.... 

Adapun pengelompokan ini berdasarkan posisi adat adalah Satua Hada (tokoh adat : 
Balugu, Sangodua/Fahandona, Sangotölu, Sango’öfa, Sangolima), Si’ila (terpelajar), 
Ere (pemimpin upacara keagamaan), Niha Sato (Orang banyak-Warga). 

Catatan : Adalah sebuah penghinaan dan tak pantas  bila seseorang tidak mendapatkan 
tempat sesuai dengan peran dan posisinya. 

3. Sumange ba Gö ( Urakha - Makanan) 
Simbol utama penghargaan dalam bentuk sajian makanan adalah Simbi (Rahang Babi). Rahang menyimbolkan  ‘bawa” (mulut) yang didalamnya terdapat ‘Lela” (lidah) sebagai pengambil keputusan. Yang menerima Simbi adalah Satua Hada dan 
Sitengabö’ö. (sekarang ditambahkan tokoh2 lain).

Untuk menghargai yang lain maka ada jatahnya pula sesuai dengan posisinya. Adapun jatah yang lain kita kenal berupa : Bu’uta / ö mbanua, Ni be ba sife, Fegero. 

Hal utama dalam hal sumange ba gö  ini adalah setiap orang mendapatkan urakha yang pas dan sesuai dengan posisinya sebagai tanda bahwa yang bersangkutan adalah bagian penting dari satu “keluarga besar” tadi. 

Catatan : böi elungu ba böi olifu wame urakha; kalau salah posisi bisa menjadi penghinaan. Yaahowu. Oleh: P. Aaron T.  Waruwu. (Tim/red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOSOK