Perubahan Saat Covid 19 Sangat Terasa Dalam Kehidupan Sosial - Gelora Hukum

Breaking

Minggu, 16 Agustus 2020

Perubahan Saat Covid 19 Sangat Terasa Dalam Kehidupan Sosial

Adrianus Aroziduhu Gulo, SH,. MH
Perubahan Saat Covid 19 Sangat Terasa Dalam Kehidupan Sosial
Filsuf Yunani Kuno Heracleitos (540-480 sebelum Masehi) mengatakan : “Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri”. Pendapat ini seiring berjalannya waktu para pemikir berikutnya, bisa jadi para pembaca artikel ini memaknainya dengan lebih tegas lagi dengan mengatakan : Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali satu yaitu perubahan itu sendiri. Hal ini merupakan fakta yang sulit dihindari dalam kehidupan, misalnya : Hari ini seorang bayi lahir, kemudian menjadi : remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati. Dalam dunia politik hari ini kawan besok lawan. Perasaan seseorang, saat ini gembira sebentar lagi sedih dan lain-lain.
 
Perubahan ini sepeti air  mengalir, sebagaimana dikatakan oleh Kahlil Gibran 1883-1930): “Ketidak permanenan manusia adalah seperti ayat-ayat yang ditulis di atas permukaan sungai”. Pesan Kahlil Gibran ini bisa dipahami karena sifat air  sungai, selain mengalir terus menerus sampai ke ilir, juga, benda apa pun yang ada dipermukaan air terus bergerak mengikuti aliran sungai serta aliran air mampu menembus batu dan gunung. Air mencari yang lebih rendah dengan menggerus tanah di depannya, terlebih-lebih saat banjir datang dapat merubah arah aliran sungai. Hidup manusia bagaikan air mengalir berubah terus menerus tanpa henti-hentinya.
     
Pendapat kedua orang bijak diatas merupakan tantangan serius dalam kehidupan manusia. Sebab, pada umumnya manusia lebih senang mempertahankan rasa aman dan kebiasaan yang dimilikinya daripada menerima hal-hal baru (perubahan) yang belum tentu membuatnya lebih aman lagi. Bahkan dapat memporak-porakkan  kehidupannya yang telah mapan. Dulu, orang sepakat “hemat pangkal kaya”. Sekarang, saat pandemi covid 19 justru dianjurkan berbelanja untuk pertumbuhan ekonomi. Dulu, orang tua kesal pada guru kelas kalau anaknya tidak pandai membaca di sekolah. Sekarang saat covid 19, guru kesal pada orang tua kalau anaknya sendiri tidak bisa diajari membaca di rumah.

Selain hal di atas, bisa jadi para pembaca pernah mengalami beberapa perubahan  yang sangat signifikan dalam pergaulan sehari-hari, seperti : Pertama, dulu “iman” yang harus kuat, sekarang “imun” yang jadi fokus. Kedua, dulu kalau orang “bersin” bilang Alhamdulillh panjang umur, sekarang kalau orang bersin diangggap sedang sakit dan membawa penyakit. Ketiga, dulu “tamu” senang karena dinggap bawa berkat, sekarang tamu dianggap/diduga membawa penyakit. Keempat, dulu “senyum” bisa dibagikan, sekarang yang dibagikan masker. Kelima, dulu “membesuk” orang tua membawa kebahagiaan, sekarang membesuk orang tua disangka membawa penderitaan/penyakit. Keenam, dulu “cuci tangan” disiapkan untuk makan, sekarang cuci tangan disiapkan dimana-mana tetapi tidak dikasih makan dan seterusnya.

Namun apa pun uapaya manusia menghindari “perubahan” hanyalah kesia-siaan. Mengapa? Karena perubahan itu bisa datang  secara sporadis dalam bentuk wabah seperti covid 19, bencana alam, gerakan masa dan lain-lain. Contoh. Gerakan mahasiswa 1998. Awalnya gerakan itu biasa-biasa saja, namun setelah bergabung beberapa tokoh nasional, pemuda, aktivis ,ormas, lsm dan lain-lain menjadi besar, sehingga Soeharto mengundurkan diri dari jabatan Presiden RI pada bulan Mei 1998. Sejak itu terjadi “perubahan yang sangat signifikan” dalam kehidupan berbangsa,bernegara, bermasyarakat dan lain-lain.

Hindari Cipika Cipiki 
Menyalami tamu dengan  berjabat tangan sejak kecil telah diajarkan orang tua kepada anak-anaknya, apalagi kalau tamu tersebut orang yang dihormati seperti : paman, tante, nenek, kakek, pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama (Pastor/Pendeta/Kyai/Ustad) dan lain-lain. Biasanya saat bertemu dengan orang-orang tersebut, di rumah atau di tempat lain, orang tua selalu mengajak anaknya, seraya berkata : Nak salam dan cium tangan kakek/nenek dan lain-lain. Anak pun menuruti ajakan orng tuanya dengan mencium tangan kakek/nenek dengan penuh hormat. Sejak itulah salaman dalam bentuk berjabat tangan telah terpatrik dalam hati anak dan menjadi kebiasaannya sesudah besar.

Selain berjabat tangan saat bertemu, ada juga beberapa orang  dengan refleks cipika-cipiki dan berpelukan satu sama lain. Seingat penulis cipika-cipiki mulai populer dan trend sejak reformasi 1998  (mohon maaf kalau salah). Sayang, penulis tidak tahu siapa yang pertama kali memulainya. Namun, sejak itu jika  pejabat  bertemu teman atau tamu, sesudah berjabat tangan  dilanjutkan cipika-cipiki, bahkan saling berpelukan sebagai tanda hormat dan gembira. Akhirnya cipika-cipiki menjadi trend di masyarakat dan dianggap sebagai  simbol meningkatkan keakraban. 
Dengan penetapan  salah satu point protokol kesehatan yaitu :  Jangan salaman/cipika-cipili/berpelukan dan lain-lain, telah terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan sosial dan komunikasi antar manusia. Bersalaman, cipika-cipiki, berpelukan  dengan  orang lain yang menjadi kebiasaan sejak kecil dan tetah terpatrik dalam hati harus “dihindari” selama covid 19. Mengapa?  Menurut para ahli kesehatan bahwa kontak badan secara langsung  covid 19 cepat menular dan menyambutnya dengan karpet merah.

Mengikuti Perubahan Tidak Sulit
Awalnya tidak bersajabat tangan saat bertemu teman suasananya sedikit kaku, namun setelah berapa kali bertemu teman dengan tidak berjabat tangan dan hanya menganggukkan kepala seraya berkata “ Salam Sehat atau salam corona”  suasana menjadi cair. Saat itu juga telah terjadi “perubahan” yang sangat signifikan yaitu dari  kebiasaan berjabat tangan menjadi tidak berjabat tangan saat ketemu. Akhirnya tidak berjabat tangan saat ketemu menjadi kebiasaan baru. Kiranya kebiasaan baru ini diharapkan akan berakhir saat covid 19 ditemukan vaksinnya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa perubahan itu sebenarnya tidak sulit asalkan kita mau memulainya dengan ikhlas. Contoh lain, memakai masker. Bagi orang berkacamata (dekat-jauh) memakai masker bisa membuat kacamata berembun.  Mengapa ? Saat memakai  masker nafas dari mulut dan hidung terhalang, karena itu embusan napas naik ke atas  membuat kaca mata berembun. Hal ini sangat mengganggung penglihatan. Maka, kalau orang berkacamata mengendarai motor/ mobil/sepeda, berjalan kaki, mengajar dan lain lain menurunkan maskernya ke bawa dagu bisa dipahami, tetapi bukan diistimewakan.

Demi keselamatan bersama  semua harus patut pada protokol kesehatan. Sulit? Tidak. Apa sulitnya menjaga jarak ? Apa sulitnya tidak bersalaman untuk sementara ?Apa sulitnya mencari kain lap khusus agar kaca mata tidak berembun? dst. Sangat tergantung pada keikhlasan dan kesadaran atas keselamatan bersama. Keikhlasan dan kesadaran seseorang mentaati protokol kesehatan merupakan  sumbangan pada perubahan. Jika kita tidak berubah, kita hanya menjadi beban pada orang lain. Ubahlah diri anda terlebih dahulu, maka orng lain akan berubah. Orang yang mengikuti perubahan saat pandemi covid 19, kemungkinan mereka bertahan hidup.
 
Meningkatnya orang yang terpapar  covid 19 pada bulan Juli 2020 sungguh prihatin. Misalnya, tanggal  9 Juli 20 terpapar 2657 0rang, tanggal 23 Juli 20 terpapar 1906, tanggal 29 Juli 20 terpapar 2381 orang, tanggal 3o Juli 20 terpapar 2040 orang, dst. Penulis tidak membahas mengapa orang yang terpapar covid 19 pada bulan Juli semakin banyak, karena takut salah. Yang ingin penulis ingatkan bahwa covid 19 semakin “ganas” dan tidak pilih orang saat ia menyerang (tua-muda, kaya-miskin, pejabat-petani, cantik-jelek, medis-non medis dst). Agar keganasan covid 19 terlokasisir harus membudayakan protokol kesehatan. Bahkan Presiden Joko Widodo pada siaran TV tanggal 3 Agutus mengharapkan agar pemakaian masker dikampanyekan kepada masyarakat selama dua minggu.

Akhirnya dapat dikatakan protokol kesehatan dapat berhasil kalau semua pihak menyadari bahwa perubahan itu suatu kebutuhan dalam hidup manusia. Orang yang  menerapkan protokol kesehatan dapat disebut : Menyambut perubahan, melawan covid 19 dengan akal sehat, memetingkan kesehatan daripada kebiasaan, menyadari hidup suatu anugerah, menyayangi sesama, menyadari bahwa Tuhan menyelamatkan umatnya melalui peraturan/hukum-Nya dan peraturan ciptaan manusia seperti protokol kesehatan, dan lain lain.

Dengan menerapkan protokol kesehatan berarti : Bersama-sama melawan perubahan yang tidak manusiawi yang dibawa covid 19, pelan-pelan tapi pasti covid 19 akan berakhir. Mari bersama melawan covid 19 dengan akal sehat yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan. Kalau bukan kita yang melawan covid 19 siapa lagi, kalau bukan sekarang melawan covid 19 kapan lagi. Salam Sehat.

Ditulis Oleh : Adrianus Aroziduhu Gulo, SH,. MH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOSOK