Rabu, 20 Januari 2021

PT KAI Diduga Rampas Tanah Warga Tanpa Ganti Rugi

JAKARTA,  GELORA HUKUM - PT KAI (Kereta Api Indonesia) Tidak Bertanggung Jawab dalam ganti rugi Pembayaran warga Blendung merasa dirugikan atas kepemilikan tanahnya yang diambil alih oleh PT KAI untuk pembangunan moda transportasi Bandara Soetta.

Seiring berjalannya waktu samapai hari ini ahli waris dari lahan 52 A Blendung belumpernah mendapat/menerima konfirmasi apapun dari pihak Kereta Api Indonesia terkait konpensasi ganti rugi lahannya bahkan  PT KAI sudah disomasi oleh lembaga monitoring Pilar Bangsa  juga tidak merespon.

Untuk itu ahli waris memberi kuasa kepada lembaga monitoring Pilar Bangsa untuk menindak lanjuti persoalan tersebut, apabila PT KAI tidak melaksanakan tanggung Jawab permasalahan tersebut akan dibawa keranah hokum menggingat lahan tersebut diambil alih oleh pihak kereta api bahakan ahli waris / pemilik lahan/ bidang 52 A Blendung tidak mendapat konpensasi pembayarannya dan ironis kediaman/ rumah tinggal telah dilakukan pemagaran oleh pihak kereta api bahkan tempat usahanya sudah esekusi bahkan telah menjadi  jalur kereta api Bandara Soetta. (Team) 

Label:

Selasa, 19 Januari 2021

Sinergitas Menggelorakan Harmoni Kebangsaan Melalui Literasi


Jakarta, Gelora Hukum —Sebagai negara dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia diisi oleh beragam suku bangsa. Tepatnya, 1.340 suku bangsa dengan corak kebudayaan yang berbeda, (20/01/2021)

Kemajemukan juga bertambah bila dilihat dari banyaknya agama yang ada. Setidaknya, terdapat enam agama yang dipeluk mayoritas masyarakat. 

Namun, mengelola kemajemukan tidaklah semudah mengucapkan semboyan Bhineka Tunggal Ika. 

Potensi konflik dan pertikaian tak sekali muncul untuk menguji kemajemukan, keberagaman dan persatuan. 

Berdasarkan Riset Setara Institute menyampaikan bahwa sikap intoleran telah menghinggapi kalangan anak muda.

“Terdapat potensi intoleransi sebesar 35,7 persen secara pasif di kalangan siswa, 2,4 persen intoleransi aktif dan 0,3 persen berupa teror. Sedangkan 61,6 persen siswa masih toleran.” 

Dilihat dari angka tersebut, memang, persentase siswa yang toleran masih lebih besar dibanding mereka yang intoleran. Namun, sekecil apa pun jumlahnya, tetap saja intoleransi—seperti halnya tumor—mesti mendapat perhatian sedini mungkin agar tidak menimbulkan daya rusak dan menggerogoti keanekaragaman di dalam tubuh bangsa ini.

Melalui gerakan cinta literasi mendorong generasi muda milenial untuk mencintai keberagaman, toleransi, harmoni kebangsaan dan mewujudakan perdamaian satu untuk semua, semua untuk satu, ungkap Edizaro Lase di Jakarta, Rabu, 20/01/2021.

Gerakan harmoni kebangsaan ini mendapatkan apresiasi dan dukungan dari Wamen PDTT Budi Arie Setiadi. (Tim) 

Label: