FKM UI Dorong Peningkatan Konsumsi Protein Hewani untuk Turunkan Prevelensi - Gelora Hukum

Breaking

Minggu, 22 September 2019

FKM UI Dorong Peningkatan Konsumsi Protein Hewani untuk Turunkan Prevelensi

Gelora Hukum, Jakarta - Fakultas kesehatan kasyarakat UI dorong peningkatan konsumsi Protein hewani untuk turunkan prevelensi melalui seminar (21/09/2019).

Stunting atau perawakan pendek pada anak akibat malnutrisi kronis masih menjadi tantangan di Indonesia.  Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)  menunjukkan,  prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8% dimana artinya 1 dari 3 balita mengalami stunting.  Terlebih,  Indonesia juga merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke 2 di Kawasan Asia Tenggara dan ke 5 ke dunia. 

Berlatarbelakang kondisi stunting di Indonesia yang masih tinggi,  Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan  Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI)  kembali melaksanakan rangkaian seminar Gizi Untuk Bangsa (GUB), sebagai upaya edukasi kepada masyarakat terntang pentingnya peran gizi dalam penanganan stunting. Seminar GUB telah dilakasanakan dari tahun 2012, dan tahun ini mengangkat tema "Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting"  untuk mendorong terciptanya kerjasama lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan prevalensi stunting melalui intervensi gizi spesifik. 

Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)  yang diwakili oleh Dr. Entos Zainal dalam pidato pembukaannya menguraikan bahwa fokus Rencan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)  2020-2024  akan menitikberatkan pada pembangunguna Sumber Daya Manusia (SDM) termasuk di bidang kesehatan.  Stunting mengakibatkan kerugian negara setara 4 trilium pertahun atau sebesar 3% dari PDB,  sehingga percepatan penanganan stunting tetap menjadi salah satu agenda besar pemerintah ke depan.  Untuk mencapai target capaian prevalensi stunting sebesar 19% di tahun 2024 tentunya bukan tugas yang mudah.  Untuk itu dibutuhkan terobosan,  inovasi dan kerjasama lintas sektor termasuk kerjasama dengan akademisi dan pihak swasta untuk segera menangani hal ini secara konkrit. 

Kondisi stunting akan berdampak serius bagi kesehatan anak baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.  Dampak jangka pendek meliputi perkembangan tubuh anak yang terhambat, performa anak yang menurun di sekolah,  peningkatan angka kesakitan dan risiko kematian. Sedangkan untuk dampak jangka panjang dari stunting yaitu obesitas,  peningkatan risiko penyakit tidak menular, bentuk tubuh pendek saat dewasa,  serta penurunan produktivitas dan kualitas hidup anak di masa mendatang. 

Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, Sp. A(K), Dokter konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak RSCM dalam paparannya menyampaikan, "Stunting  hanya bisa teratasi selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun dan masa dimana otak anak berkembang pesat. ASI Eksklusif penting diberikan selama 6 bulan pertama dan dapat diteruskan hingga anak berusia 2 tahun. Pada tahap pemberian Makanan Pendamping Asi (MPASI), orang tua harus memeperhatikan pola asupan gizi yang seimbang,  terutama untuk memberikan asupan karbohidrat,  lemak tinggi dan protein hewani. 

Pada kesempatan yang sama,  Dr. Marudut Sitompul dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menyampaikan,  "Asupan protein paling baik dapat diperoleh dari sumber protein hewani yaitu telur dan susu karena memiliki nilai cerna dan bioavaibilitas paling tinggi dan asam amino esensial lebih lengkap untuk mendukung pertumbuhan linie anak-anak. 

Seminar GUB berlangsung selama 2 hari dari tanggal 20-21 September 2019 di Universitas Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan secara tahunan oleh Departemen Gizi Kesmas FKMUI dan para alumni yang baru lulus. (Edy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOSOK