Sabtu, 28 November 2020

Kota Gunungsitoli Hanya 1 Paslon, Kokos Selamatkan Demokrasi


  Alfons Cahyadi Zebua (Aktivis Penggiat Anti Korupsi)

GUNUNG SITOLI, GELORA HUKUM - Pemilihan Kepala Daerah Gunung Sitoli belum mencerminkan sebuah kontestasi karena masih hanya menguntungkan salah satu pihak, yaitu hanya menguntungkan Paslon Tunggal yang didukung oleh gabungan partai politik. Ini seperti KRISIS PEMERINTAH di Gunung Sitoli dan dapat menjadi  berkepanjangan jika tidak dikawal oleh masyarakat.


Pemilihan Calon Walikota itu seharusnya untuk kepentingan rakyat sehingga harus melibatkan masyarakat sebab esensi demokrasi adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilih, menerima atau menolak orang yang akan memimpin dan memerintah masyarakat Gunung Sitoli.

Tapi ketika kenyataan dalam pemilihan walikota hanya menunjukkan satu pasangan calon sehingga aspirasi Masyarakat Gunung Sitoli tidak sejalan karena hak memilih masyarakat dirampas oleh pasangan tunggal. koreksi atas ketidak-adilan atas ketidak adilan ini harus dilawan oleh masyarakat  karena apabila tidak akan menimbulkan dinasti. Hal ini merupakan keadaan luar biasa dalam Paradigma demokrasi dan sangat Cacat karena bagaimana masyarakat memilih jika calon hanya satu karena menjadikan suatu keterpaksaan saja oleh karena itu adanya Kolom kosong yang merupakan konsep turunan dari konstitusi dipandang menyelamatkan demokrasi di gunung sitoli.

Untuk menyelamat kota gunung sitoli dari keserakahan Kekuasaan, Tirani dan Oligarki kekuasaan yang didukung oleh gabungan partai politik maka Rakyat gunung sitoli harus bertekad untuk perubahan yang baik agar di kemudian hari tidak terjadi lagi perampasan hak masyarakat nias.

Semua masyarakat gunung sitoli mengetahui TIRANI ini pintar mengubar janji-janji tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan janjinya, atau mungkin dia hanya seorang pendusta. Dulu TIRANI ini menjanjikan Pengadaan tanah pemakaman umum TETAPI sampai detik ini sampahpun masih berserakan, kemudian dia menjanjikan bantuan dana bergulir kepada nelayan sebesar 2 Milyar/Tahun, ditambah lagi Janji Pengelolaan Karet untuk masyarakat TETAPI FAKTANYA ketika TIRANI ini memimpin janji-janji itu tidak terpenuhi DAN PALING MENYEDIHKAN menimbulkan beberapa daerah Terisolasi.
Melihat Janji-janji yang tidak dapat dipenuhinya itu dan fakta yang menyedihkan terisolirnya masyarakat daerah Gunung Sitoli Utara masih saja perwakilan kita yang duduk di kursi DPRD dan Gabungan Partai Politik mendukung penuh Calon Tunggal ini.

Maka pergerakan rakyat dalam serangkaian aktivitas masyarakat untuk mensosialisasikan dan mengedukasi adanya pilihan lain yaitu kolom kosong yang menyelamatkan demokrasi. Perlu diketahui kolom kosong adalah pilihan yang dilindungi oleh undang-undang dan jika kolom kosong menang maka Pemimpin di kota Gunung Sitoli bukan dari Rekomendasi Partai Politik karena Pemimpin akan ditunjuk Langsung oleh Kemendagri yang diangkat sumpahnya atas nama Presiden dan PEJABAT WALIKOTA yang sama kewenangannya dengan Walikota akan menjalankan roda pemerintahan berdasarkan ASAS-ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK.

Walau tidak mendapat alokasi dana kampanye dari negara sehingga harus menggunakan dana sendiri gerakan kolom kosong semakin menjamur seperti dimusim penghujan karena Pimpinan Gunung Sitoli sebenarnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat ditambah adanya Jaminan Hukum jika kolom kosong menang maka  Pejabat struktural Eselon II pangkat golongan sekurang-kurangnya IV/b yang Mempunyai pengalaman di bidang pemerintahan, dengan daftar penilaian pelaksaan pekerjaan baik yang dibuktikan dengan riwayat jabatan akan memimpin kota Gunung Sitoli.

Walikota Gunung Sitoli itu untuk Rakyat bukan untuk kepentingan TIRANI dan Golongannya. Mari kita memilih pada TPS kita terdaftar pada tanggal 9 Desember 2020. Salam Kolom Kosong Gunung Sitoli. (ALF)

Ditulis oleh : Alfons Cahyadi Zebua (Aktivis Penggiat Anti Korupsi

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda