Ama Rena Hia: Jangan Belokan Sejarah Pemekaran Nias Barat - Gelora Hukum

Breaking

Senin, 01 Juni 2020

Ama Rena Hia: Jangan Belokan Sejarah Pemekaran Nias Barat

Drs. Dalinafao Hia alias Bung Ama Rena Hia (Tokoh pelaku perjuangan pemekaran Nias Barat)
GUNUNGSITOLI, GELORA HUKUM - Diwilayah Kabupaten Nias Barat, siapa yang tidak kenal dengan Drs. Dalinafao Hia akrab disapa Bung Ama Rena Hia, beliau dikenal salah seorang tokoh pelaku sejarah Perjuangan Pemekaran Kabupaten Nias Barat,  melalui Via WA menghanturkan rasa kesal setelah membaca dan mempelajari Sejarah perjuangan Pembentukan  Kabupaten Nias Barat sebagaimana tertuang dalam buku sejarah Nias Barat yang telah dibuatkan akhir akhir ini.

Menurutnya, catatan sejarah perjuangan pemekaran Nias Barat yang tertuang dalam buku itu, sungguh banyak kejanggalan, tidak mengandung unsur kebenaran, sehingga saya menilai niat busuk membelokan sejarah perjuangan pemekaran ini dilakukan dengan unsur kesengajaan.

Lanjut Bung Ama Rena, dari sekian banyak ada beberapa poin penting catatan sejarah yang sudah dihilangkan diantaranya :
1. Catatan Aksi pengumpulan sumbangan dana perjuangan pemekaran disebutkan hanya diwilayah Jakarta saja, sementara catatan dukungan dana dari warga dan tokoh di wilayah Nias Barat tidak disebutkan.

2. Personil Tim 10 yang bertugas untuk pemantapan berjalannya roda pemerintahan sebelum Nias Barat ditetapkan secara sempurna, sama sekali tidak disebutkan.

3. Sumber dana serta nama nama para penyumbang pada pembangunan Balai Serbaguna sebagai cikal bakal Kantor Pemerintah Kabupaten Nias Barat, sama sekali tidak disebutkan.

4. Acara pembubaran panitia Pemekaran sekaligus penyampaian pertanggungjawaban keuangan sampai saat ini belum dilakukan.

5. Bahkan disebutkan lagi bahwa Cub Bola Kaki Samudra dan Putra jaya disponsori oleh Bapak Fatiaro Daeli alias Ama Fandel, H.Marundrur alias Ama Gaeli, MN Hawa alias Ama Zididi, Ama Iriani Gulo, Ama Sorni Daeli, uraian ini tidak benar, yang benar adalah  Cub Bola Kaki Putra jaya, sebagai Pemimpin/ Pengasuh/Pemilik/Koordinator adalah Fatiaro Daeli alais Ama Fandel, sedangkan H.Marundruri alias Ama Gaeli adalah sebagai Pelatih para pemain.

6. Wadah lain dalam buku itu adalah adanya KOOR SION dan bertindak sebagai dirgen ketikan itu adalah Napos Daeli alias Ama Iman, Sawato Daeli alias Ama Rober (alm) dan tempat latihan di Ketilang setelah mulai kegiatan gereja ONKP Gunungsitoli kota tahun 1983, harusnya Koor Sion disaat proses pemekaran Nias Barat sama sekali tidak ada.

7. Disebutkan bahwa Lagu "He Tano Niha Tano Bagaekhula" ciptaan Bapak Ama Yosefo Gulo, sebenarnya lagu tersebut di ciptakan oleh Bapak Nehesi Daeli alias Ama Sera Desa Fulolo.

Sungguh aneh, masih ada yang berani menjadi Narasumber sejarah perjuangan Nias Barat, sementara yang bersangkutan bukan sebagai pelaku sejarah yang sesungguhnya, huffff sungguh memalukan, tandas Bung Ama Rena dengan kesal.

Bahkan saat ini terlihat banyak yang merasa sebagai tokoh pemekaran Nias Barat, sementara dulu sumbangannya nyaris tidak kelihatan, bahkan disaat rapat aksi pengumpulan dana guna biaya perjuangan, batang hidung yang ngaku ngaku itu tidak nampak bahkan ada yang berpura pura sibuk, tegas Bung Ama Rena.

Dilanjutkan, Ketika UU Pemekaran dalam proses pengesahan di DPR RI,  mereka datang dengan menggunakan Jas sambil berfoto digunakan sebagai bukti kehadirannya pada sidang DPR RI, dari foto itu terus di hebohkan sebagai bukti seolah olah mereka tokoh dan pejuang pemekaran sehingga nama mereka tercantum dalam sejarah Pemekaran Nias Barat, "Sunggu Hebat", sementara orang lain yang capek kerja dengan segala pengorbanan harta dan pikiran dalam mempersiapkan kelengkapan persiapan pemekaran tapi nama mereka tidak tercatat pada sejarah pemberkatan, sungguh Luar biasa rekayasa dan kelicikan yang tejadi, bahkan dengan senang bersuka cita tanpa rasa malu menari nari diatas jeri payah orang lain.

Untuk diketahui bersama, demi keadilan sejarah guna melawan lupa, karena kini jasa jasa dari sejumlah teman termasuk saya didalamnya sebagai pelaku sejarah yang dulunya tanpa  terhitung pengorbanan, dari itu maka dengan terpaksa saya berkewajiban menguraikan fakta atas pengorbanan saya yang kini sudah tidak ada nilainya yakni:
1. Pada pembangunan BSG bantuan dari saya Rp. 55 juta diluar biaya konsumsi.

2. Pada awal perjuangan pemekaran Kab. Nias barat bantuan dari saya Rp. 50 Juta.

3. Bantuan saya untuk biaya tim di Medan setelah pengesahan usul pemekaran oleh DPRD Propsu Rp. 20 Juta, bahkan saat itu para Pembina/ Penasehat salom berjanji untuk ambil bagian memberi sumbangan melalui Bupati, ternyata janji itu semuanya hanya janji belaka.

4. Pinjaman oknum  terhadap saya guna perjuangan di Jakarta Rp. 150 Juta, hingga kini belum diganti.

5. Biaya bepergian audiensi dibeberapa kementerian di Jakarta Rp. 80 Juta + 24 Juta, mirisnya pinjaman oknum tersebut sampai saat ini belum diganti, bahkan oknum tersebu mengatakan tidak ada utangnya kepada saya. Dari itu saya hanya berdo'a dan meyakini bahwa Tuhan pasti berkarya kepada yang bersangkutan, tandas Bung Ama Rena mengakhiri. (Tim/red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOSOK